Kajian Kitab Safinatun Najah part 7_ Syarat Istinja’ dengan Batu

 


Daftar isi

A. PENDAHULUAN.. 2

1. Latar Belakang dan Urgensi Kajian. 2

2. Tujuan dan Metodologi Kajian. 3

B. TEKS DASAR DAN TERJEMAH.. 3

C. DASAR HUKUM ISTINJA’ DENGAN BATU.. 4

D. ANALISIS TERPERINCI DELAPAN SYARAT.. 4

Syarat Pertama: Menggunakan Tiga Batu (An Yakūna bi Tsalātsati Aḥjār). 4

Syarat Kedua: Mampu Membersihkan Tempat Najis (An Yunqiya al-Maḥalla). 6

Syarat Ketiga: Najis Belum Mengering (An Lā Yajiffa an-Najsu). 7

Syarat Keempat: Najis Belum Berpindah Tempat (An Lā Yantaqila). 9

Syarat Kelima: Tidak Tercampur dengan Najis atau Benda Lain (An Lā Yaṭra’a ‘Alaihi Ākhar)  10

Syarat Kedelapan: Batu Harus Suci (An Takuna al-Aḥjāru Ṭāhiratan). 13

E. BENDA-BENDA YANG DAPAT MENGGANTIKAN BATU.. 15

F. PERBANDINGAN KEUTAMAAN AIR DAN BATU DALAM ISTINJA’. 15

G. TABEL RINGKASAN SYARAT ISTINJA’ DENGAN BATU.. 16

H. ANALISIS MAQĀṢIDĪ DAN RELEVANSI KONTEMPORER.. 16

1. Hikmah di Balik Syarat-Syarat Tersebut 16

2. Relevansi di Era Modern. 17

3. Catatan Kritis: Tisu sebagai Pengganti Batu. 17

I. KESIMPULAN.. 18

J. DAFTAR PUSTAKA.. 19

 

 

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang dan Urgensi Kajian

Bersuci (ṭahārah) merupakan salah satu pilar utama dalam ibadah Islam. Tanpa kesucian, tidak ada shalat yang sah, tidak ada thawaf yang diterima, dan tidak ada ibadah ritual yang sempurna. Oleh karena itu, para ulama fiqih dari generasi ke generasi senantiasa memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bab ṭahārah, termasuk di dalamnya permasalahan istinja’ (bersuci dari najis yang keluar dari dua jalan: qubul dan dubur).

Istinja’ secara etimologis berasal dari kata najā yanjū yang berarti “selamat, terbebas, atau terlepas”. Dalam terminologi syariat, istinja’ dimaknai sebagai upaya menghilangkan najis yang keluar dari qubul atau dubur, baik menggunakan air, batu, atau benda-benda tertentu yang memiliki sifat membersihkan. Walaupun air merupakan alat penyuci utama (al-aṣl fī al-muṭahhirāt), syariat memberikan keringanan (rukḥṣah) bagi mukalaf untuk menggunakan benda padat seperti batu dalam kondisi tertentu. Imam an-Nawawi rahimahullah memberikan definisi yang lebih teknis:

الاِسْتِنْجَاءُ إِزَالَةُ النَّجَاسَةِ الْخَارِجَةِ مِنَ السَّبِيْلَيْنِ بِالْمَاءِ أَوِ الْأَحْجَارِ وَمَا فِيْ مَعْنَاهَا

Artinya: “Istinja’ adalah menghilangkan najis yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur) dengan menggunakan air, batu, atau benda-benda yang semakna dengannya.”[1]

Kitab Safinatun Najah merupakan salah satu karya monumental dalam khazanah fiqih mazhab Syafi’i. Kitab ini dikarang oleh Syaikh Salim bin Sumair al-Haḍrami (w. 1270 H), seorang ulama besar asal Hadramaut, Yaman. Nama lengkap kitab ini adalah Safinatun Najah fii maa Yajibu ‘alal ‘Abdi li Maulaah (سَفِيْنَةُ النَّجَاهِ فِيْمَا يَجِبُ عَلَى الْعَبْدِ لِمَوْلَاهُ) yang secara harfiah berarti ‘Perahu Keselamatan dalam Hal-hal yang Wajib diketahui Seorang Hamba kepada Tuhannya’. Kitab yang ringkas namun padat isi ini telah menjadi pegangan utama kaum muslimin di Nusantara selama berabad-abad.

Salah satu bahasan penting dalam kitab ini adalah pasal mengenai syarat-syarat sahnya istinja’ menggunakan batu (al-aḥjār). Dalam tradisi fiqih Islam, istinja’ boleh dilakukan dengan air, batu, atau keduanya secara bersamaan (al-jam‘u baina al-mā’ wal-ḥajar). Namun ketika seseorang memilih menggunakan batu—yang dalam konteks modern dapat diperluas kepada benda-benda padat sejenis yang memenuhi syarat—terdapat delapan syarat yang harus dipenuhi agar istinja’nya dianggap sah dan sempurna menurut mazhab Syafi’i.

2. Tujuan dan Metodologi Kajian

Kajian ini bertujuan untuk memaparkan secara terperinci, mendalam, dan sistematis kedelapan syarat tersebut dengan pendekatan tekstual (naṣṣi), yuridis (fiqhi), dan filosofis (maqāṣidi), serta menghadirkan komentar para ulama mazhab Syafi’i sebagai pengayaan. Metodologi yang digunakan adalah deskriptif-analitis dengan pendekatan taḥlīl al-naṣṣ dan dirāsah muqāranah.

B. TEKS DASAR DAN TERJEMAH

Berikut adalah teks asli dari Safinatun Najah bab istinja’ yang menjadi objek kajian. Teks ini dinisbatkan kepada Syaikh Salim bin Sumair al-Haḍrami dalam Safinatun Najah (Beirut: Dār al-Minhāj, 2009, hlm. 17; juga Surabaya: Maktabah Ahmad bin Sa’ad bin Nabhan, t.t.).

 ( فَصْلٌ) وَشُرُوْطُ إِجْزَاءِ الْحَجَرِ ثَمَانِيَةٌ: أَنْ يَكُوْنَ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ، وَأَنْ يُنْقِيَ الْمَحَلَّ، وَأَنْ لَا يَجِفَّ النَّجِسُ، وَأَنْ لَا يَنْتَقِلَ، وَلَا يَطْرَأَ عَلَيْهِ آخَرُ، وَلَا يُجَاوِزَ صَفْحَتَهُ وَحَشَفَتَهُ، وَلَا يُصِيْبَهُ مَاءٌ، وَأَنْ تَكُوْنَ الْأَحْجَارُ طَاهِرَةً

Artinya: (Fasal) Syarat-syarat yang memadai dalam bersuci menggunakan batu ada delapan: (1) menggunakan tiga batu; (2) batu tersebut mampu membersihkan tempat najis; (3) najis belum mengering; (4) najis belum berpindah tempat; (5) najis tersebut tidak tercampur dengan najis lain; (6) najis tidak melampaui ṣafḥah dan ḥasyafah; (7) najis tidak terkena air; dan (8) batu-batu tersebut harus suci.

Kedelapan syarat ini bersifat kumulatif; apabila salah satu tidak terpenuhi, maka istinja’ dengan batu tidak dianggap sah dan wajib menggunakan air. Pernyataan singkat ini memuat bangunan fikih yang sangat padat: bukan sekadar tata cara membersihkan najis, melainkan juga penegasan bahwa syariat Islam memerhatikan kebersihan, kehati-hatian, dan kemudahan secara seimbang.

C. DASAR HUKUM ISTINJA’ DENGAN BATU

Kebolehan istinja’ menggunakan batu memiliki dasar yang kuat dalam al-Sunnah. Rasulullah secara tegas memerintahkan penggunaan batu dalam bersuci dan bahkan memberikan batasan minimal penggunaannya. Di antara hadits yang menjadi dasar hukumnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

عَنْ سَلْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: نَهَانَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ

Artinya: “Dari Salman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Rasulullah melarang kami bersuci dengan menggunakan kurang dari tiga batu.’”[2]

Hadits ini menjadi landasan utama syarat pertama dari delapan syarat istinja’ dengan batu, yaitu penggunaan minimal tiga batu. Para ulama mazhab Syafi’i kemudian melengkapi syarat-syarat operasional lainnya berdasarkan ijtihad dan qiyas yang bersumber dari prinsip-prinsip umum ṭahārah dalam al-Quran dan al-Sunnah.

D. ANALISIS TERPERINCI DELAPAN SYARAT

Syarat Pertama: Menggunakan Tiga Batu (An Yakūna bi Tsalātsati Aḥjār)

Teks Arab:

أَنْ يَكُوْنَ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ

Penjelasan:

Syarat pertama menekankan aspek kuantitas minimal. Meskipun tempat keluarnya najis sudah bersih dengan satu atau dua kali usapan, secara hukum syariat tetap mewajibkan penggunaan tiga buah batu (atau satu batu besar yang memiliki tiga sisi/permukaan, atau tiga kali usapan). Para ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa bilangan tiga ini bersifat ta‘abbudī (ketentuan syariat yang tidak dapat dianalogikan), bukan sekadar anjuran. Imam ar-Ramli menjelaskan:

يَجِبُ أَنْ يَكُوْنَ الِاسْتِجْمَارُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَأَكْثَرَ وَلَوْ فِيْ حَجَرٍ وَاحِدٍ لَهُ ثَلَاثَةُ أَطْرَافٍ أَوْ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Artinya: “Wajib hukumnya istijmar (bersuci dengan batu) dilakukan dengan tiga batu atau lebih, meskipun batu tersebut hanya satu batu yang memiliki tiga ujung atau tiga sisi.”[3]

Imam an-Nawawi dalam Al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab menegaskan bahwa para ulama Syafi‘iyyah sepakat tentang bolehnya istinja’ dengan batu dan yang semakna dengannya:

وَسَوَاءٌ فِي ذَلِكَ الْأَحْجَارُ وَالْأَخْشَابُ وَالْخِرَقُ

Artinya: “Sama saja dalam hal itu batu, kayu, dan kain.”[4]

Syaikh al-Islam Zakariyya al-Anṣari dalam Fatḥ al-Wahhāb bi Syarḥ Manhaj al-Ṭullāb (Beirut: Dar al-Fikr, 1994, juz 1, h. 45) menjelaskan: 

وَالثَّلَاثَةُ هِيَ الْأَدْنَى فِي الْحَجَرِ، فَإِنْ زَادَ فَهُوَ أَكْمَلُ، وَلَكِنْ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُجَاوِزَ ثَلَاثَ مَسَحَاتٍ إِنْ حَصَلَ الْإِنْقَاءُ 

Artinya: “Tiga adalah batas minimal dalam penggunaan batu. Jika lebih, maka lebih sempurna. Namun tidak boleh melebihi tiga usapan jika sudah bersih.”[5]

Ulama Syafi‘iyyah juga lain menekankan hal yang sama, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Kasyifatu as-Saja:

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ رضي الله عنه قَالَ: لَقَدْ نَهَانَا (صلى الله عليه وسلم) أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ، أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ، أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ

Artinya: “Dari Salman al-Farisi RA, ia berkata: Sungguh Rasulullah SAW telah melarang kami menghadap kiblat saat buang air besar atau kecil, melarang beristinja dengan tangan kanan, dan melarang beristinja dengan kurang dari tiga buah batu.”[6]

Dari keterangan ini, syarat pertama menekankan pada jumlah minimal usapan, bukan jumlah fisik batu. Ini merupakan bentuk rukḥṣah (keringanan) untuk menghindari penggunaan air dalam kondisi terbatas.

Syarat Kedua: Mampu Membersihkan Tempat Najis (An Yunqiya al-Maḥalla)

Teks Arab:

وَأَنْ يُنْقِيَ الْمَحَلَّ

Penjelasan:

Kata yunqiya berasal dari akar kata naqā – yanqī yang berarti “bersih dari kotoran”. Tujuan utama istinja’ adalah inqā’ (pembersihan total dari zat najis). Syarat kedua ini mewajibkan tempat keluarnya najis harus benar-benar bersih sehingga tidak ada lagi bagian najis yang tersisa, kecuali bekas yang hanya bisa dihilangkan dengan air (al-atsar al-ladzī lā yazūlu illā bi al-mā’). Jika setelah tiga kali usapan tempat tersebut belum bersih, maka wajib menambah usapan hingga bersih. Imam Ibnu Hajar al-Haitami Tuhfatul Muhtaj bi Syarh al-Minhaj menjelaskan:

وَيَجِبُ الْإِنْقَاءُ وَهُوَ إِزَالَةُ عَيْنِ النَّجَاسَةِ حَتَّى لَا يَبْقَى إِلَّا مَا يَشُقُّ إِزَالَتُهُ مِنَ الْأَثَرِ وَالرَّائِحَةِ وَاللَّوْنِ

Artinya: “Wajib hukumnya mencapai inqa’ (kebersihan), yaitu menghilangkan wujud fisik najis hingga tidak tersisa kecuali bekas yang sulit dihilangkan berupa warna atau bau.”[7]

Dalam Tuḥfah al-Muḥtāj yang lain (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2010, juz 1, h. 200) beliau juga menulis: 

وَشَرْطُ الْإِنْقَاءِ: أَنْ لَا يَبْقَى عَيْنُ النَّجَسِ، سَوَاءٌ بَقِيَ أَثَرُهُ أَمْ لَا، فَالْعِبْرَةُ بِزَوَالِ الْجُرْمِ لَا بِزَوَالِ اللَّوْنِ وَالرَّائِحَةِ 

Artinya: Syarat inqā’ adalah tidak tersisa zat najis itu sendiri, baik tersisa bekasnya atau tidak. Yang menjadi patokan adalah hilangnya jirim (partikel najis), bukan hilangnya warna dan bau.”[8]

Dengan demikian, jika setelah diusap dengan batu masih tersisa warna atau bau namun tidak ada zatnya, maka hukumnya tetap suci. Ini merupakan salah satu kemudahan syariat.

Syarat Ketiga: Najis Belum Mengering (An Lā Yajiffa an-Najsu)

Teks Arab:

وَأَنْ لَا يَجِفَّ النَّجِسُ

Penjelasan:

Syarat ini sangat logis karena batu berfungsi mengangkat najis basah melalui gesekan. Jika najis sudah kering, batu tidak akan mampu mengangkatnya kecuali dengan tekanan keras yang justru dapat melukai kulit. Dalam kondisi ini, penggunaan batu tidak lagi mencukupi, dan wajib menggunakan air. Imam Zakariyya al-Anṣari menjelaskan hikmahnya:

فَإِنْ جَفَّ النَّجِسُ لَمْ يُجْزِئِ الْحَجَرُ لِأَنَّهُ لَا يُزِيْلُهُ غَالِبًا وَالشَّرْطُ الْإِزَالَةُ

Artinya: Artinya: “Apabila najis telah mengering maka batu tidak mencukupi karena batu pada umumnya tidak mampu menghilangkannya, sedangkan syarat yang dituntut adalah hilangnya najis.”[9]

Imam al-Khatib asy-Syirbini dalam Mughnī al-Muḥtāj menjelaskan: 

فَإِنْ جَفَّ النَّجَسُ لَمْ يُجْزِ الْحَجَرُ؛ لِأَنَّ الْحَجَرَ إِنَّمَا يُزِيلُ الرَّطْبَ بِالْمَسْحِ، وَالْيَابِسُ لَا يُزَالُ إِلَّا بِالْمَاءِ أَوْ بِحَكٍّ شَدِيدٍ ضَارٍّ

Artinya: “Apabila najis telah kering, maka batu tidak mencukupi (tidak sah), karena batu hanya menghilangkan najis basah dengan usapan. Adapun najis kering tidak dapat dihilangkan kecuali dengan air atau dengan gesekan keras yang membahayakan.”[10]

Syaikh Sulaiman al-Bujairami dalam Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib juga menyatakan:

وَلَوْ جَفَّ النَّجِسُ فَلَا يُجْزِئُ فِيهِ إلَّا الْمَاءُ لِأَنَّ الْحَجَرَ لَا يُزِيْلُهُ

Artinya: “Jika najis telah kering, maka tidak cukup baginya kecuali dengan air, karena batu tidak mampu menghilangkannya.”[11]

Syaikh ‘Ali Syibramalisi dalam Hasyiyah ‘alā Nihāyah al-Muḥtāj menambahkan bahwa batasan “kering” adalah ketika najis sudah tidak membasahi batu saat diusap.[12]

Syarat Keempat: Najis Belum Berpindah Tempat (An Lā Yantaqila)

Teks Arab: 

وَأَنْ لَا يَنْتَقِلَ

Penjelasan:

Najis yang keluar harus tetap berada di area asalnya saat keluar. Jika najis telah bergeser atau berpindah ke area lain dari tubuh (misalnya karena gerakan tubuh atau gesekan pakaian), maka area baru tersebut wajib dibersihkan dengan air. Batu hanya berlaku untuk area yang dilewati langsung oleh najis saat proses istifrāgh. Imam al-Khatib asy-Syarbini memberikan rincian:

فَإِنِ انْتَقَلَ النَّجِسُ عَنْ مَوْضِعِهِ إِلَى مَوْضِعٍ آخَرَ مِنَ الْبَدَنِ لَمْ يَكْفِ فِيْهِ الْحَجَرُ لِأَنَّهُ صَارَ نَجَاسَةً غَيْرَ مَعْفُوٍّ عَنْهَا فِيْ غَيْرِ مَوْضِعِهَا

Artinya: “Apabila najis berpindah dari tempatnya ke bagian lain tubuh, maka batu tidak lagi mencukupi, karena najis tersebut telah menjadi najis yang tidak dimaafkan di luar tempatnya semula.”[13]

Imam ar-Ramli dalam Nihāyah al-Muḥtāj (Beirut: Dar al-Fikr, 1984, juz 1, h. 150) menegaskan: 

فَإِنِ انْتَقَلَ النَّجَسُ عَنْ مَحَلِّهِ الْأَصْلِيِّ بِغَيْرِ فِعْلِ الْمُسْتَنْجِي، كَالْمَشْيِ، لَمْ يُجْزِ الْحَجَرُ فِي الْمُنْتَقِلِ؛ لِأَنَّهُ صَارَ كَنَجَاسَةٍ جَدِيدَةٍ

Artinya: “Jika najis berpindah dari tempat asalnya tanpa disengaja oleh orang yang beristinja’, misalnya karena berjalan, maka batu tidak sah untuk membersihkan najis yang telah berpindah itu, karena ia menjadi seperti najis baru.”[14]

Syarat Kelima: Tidak Tercampur dengan Najis atau Benda Lain (An Lā Yaṭra’a ‘Alaihi Ākhar)

Teks Arab:

وَلَا يَطْرَأَ عَلَيْهِ آخَرُ

Penjelasan:

Syarat ini menuntut kemurnian objek yang akan dibersihkan. Jika najis yang keluar terkena benda asing, meskipun benda itu suci (seperti air mawar) atau terkena najis lain yang bukan berasal dari dirinya, maka penggunaan batu dianggap gugur. Kata yaṭra’ berarti “datang tiba-tiba” atau “menimpa”. Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj menjelaskan:

أَنْ لَا يَطْرَأَ عَلَيْهِ أَجْنَبِيٌّ وَلَوْ طَاهِرًا رَطْبًا كَمَاءٍ آخَرَ أَوْ جَافًّا كَدُودٍ خَرَجَ مِنْهُ

Artinya: “Jangan sampai najis tersebut kedatangan benda asing meskipun benda itu suci lagi basah seperti air lain, atau kering seperti ulat yang keluar dari dubur (lalu menempel kembali).”[15]

Imam Ibnu Qasim al-‘Abbadi dalam Hasyiyah Tuhfatul Muhtaj menerangkan:

لَوْ طَرَأَ عَلَى النَّجَاسَةِ الْأَصْلِيَّةِ نَجَاسَةٌ أُخْرَى مِنْ خَارِجٍ لَمْ يَصِحَّ الِاسْتِجْمَارُ لِأَنَّ النَّجَاسَةَ الطَّارِئَةَ لَيْسَتْ مَعْفُوًّا عَنْهَا

Artinya: “Apabila datang najis lain dari luar yang menambah pada najis asli, maka istijmar tidak sah karena najis yang baru datang tersebut tidak termasuk yang dimaafkan.”[16]

Syaikh Muhammad bin ‘Umar Nawawi al-Jawi (Banten) dalam Marāqī al-‘Ubudiyyah menulis: 

وَطُرُوءُ نَجَسٍ آخَرَ يُبْطِلُ الِاسْتِنْجَاءَ بِالْحَجَرِ، لِأَنَّهُ يُصَيِّرُ النَّجَاسَةَ مُتَعَدِّدَةً فَيَشْتَدُّ أَمْرُهَا، فَلَا بُدَّ مِنَ الْمَاءِ 

Artinya: “Datangnya najis lain membatalkan istinja’ dengan batu, karena ia menjadikan najis tersebut berlipat sehingga memperparah keadaan, maka wajib menggunakan air.”[17]

Syarat Keenam: Najis Tidak Melewati Batas Ṣafḥah dan Ḥasyafah (An Lā Yujāwizu Ṣafḥatahu wa Ḥasyafatahu)

Teks Arab:

وَلَا يُجَاوِزَ صَفْحَتَهُ وَحَشَفَتَهُ

Penjelasan:

Ini adalah batasan anatomis. Ṣafḥah (صَفْحَة) adalah permukaan pantat—yaitu daerah yang tertutup ketika seseorang berdiri tegak baik dari sisi kanan maupun kiri. Ḥasyafah (حَشَفَة) adalah kepala penis (glans), yaitu bagian yang tampak pada laki-laki yang telah dikhitan. Batas ini penting karena menunjukkan bahwa istinja’ dengan batu hanya dibolehkan pada area yang masih dalam koridor keluarnya najis yang wajar. Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj bi Syarh al-Minhaj menjelaskan:

الصَّفْحَتَانِ هُمَا جَانِبَا الْأَلْيَتَيْنِ وَالْحَشَفَةُ رَأْسُ الذَّكَرِ وَهِيَ الَّتِيْ تَظْهَرُ بَعْدَ الْخِتَانِ فَإِنْ جَاوَزَ النَّجِسُ هَذِهِ الْحُدُوْدَ وَجَبَ الْمَاءُ

Artinya: “Dua shafḥah adalah dua sisi pantat, sedangkan ḥasyafah adalah kepala penis—bagian yang terlihat setelah khitan. Apabila najis melampaui batas-batas ini maka wajib menggunakan air.”[18]

Imam al-Bujairimi dalam Hāsyiyah al-Bujairimi ‘alā al-Khaṭīb memberikan komentar: 

وَشَرَطُوا عَدَمَ مُجَاوَزَةِ النَّجَسِ الصَّفْحَةَ وَالْحَشَفَةَ، لِأَنَّ مَا وَرَاءَهُمَا لَيْسَ مِنْ مَحَلِّ الِاسْتِنْجَاءِ، فَيَحْتَاجُ إِلَى الْمَاءِ تَطْهِيرًا 

Artinya: “Mereka (ulama) mensyaratkan tidak melampauinya najis terhadap ṣafḥah dan ḥasyafah, karena area di luar keduanya bukanlah tempat istinja’, sehingga memerlukan air untuk mensucikannya.”[19]

Syarat Ketujuh: Tidak Terkena Air (An Lā Yuṣībahu Mā’un)

Teks Arab:

وَلَا يُصِيْبَهُ مَاءٌ

Penjelasan:

Jika najis tersebut terkena air sebelum proses istinja’ dengan batu selesai, maka najis tersebut menjadi “terkontaminasi”. Air yang sedikit yang mengenai najis justru akan menyebarkan najis ke area yang lebih luas, sehingga syarat penggunaan batu menjadi batal. Syaikh al-Bajuri menjelaskan hikmahnya:

لِأَنَّ الْمَاءَ إِذَا أَصَابَ النَّجَاسَةَ نَشَّرَهَا وَأَفْسَدَ حُكْمَ الِاسْتِجْمَارِ بِالْحَجَرِ إِذْ لَا يُمْكِنُ حِيْنَئِذٍ إِنْقَاؤُهَا بِهِ

Artinya: “Karena air apabila mengenai najis akan menyebarkannya dan merusak keberlakuan hukum istijmar dengan batu, sebab setelah itu tidak mungkin lagi membersihkannya dengan batu.”[20]

Syaikh Ibnu Qasim al-Ghazi dalam Fatḥ al-Qarīb al-Mujīb menyatakan: 

فَإِنْ أَصَابَ النَّجَسَ مَاءٌ قَبْلَ الِاسْتِنْجَاءِ بِالْحَجَرِ، لَمْ يُجْزِ الْحَجَرُ؛ لِأَنَّ الْمَاءَ يَجْعَلُ النَّجَاسَةَ تَسْرِي وَتَلْتَصِقُ، فَلَا يُزِيلُهَا الْحَجَرُ

Artinya: “Jika najis terkena air sebelum istinja’ dengan batu, maka batu tidak sah; karena air menyebabkan najis meresap dan melekat, sehingga batu tidak dapat menghilangkannya.”[21]

Syarat Kedelapan: Batu Harus Suci (An Takuna al-Aḥjāru Ṭāhiratan)

Teks Arab:

وَأَنْ تَكُوْنَ الْأَحْجَارُ طَاهِرَةً

Penjelasan:

Alat yang digunakan untuk mensucikan haruslah suci pada dasarnya. Menggunakan batu yang terkena najis (mutanajjis) hanya akan menambah kenajisan pada tempat tersebut. Imam an-Nawawi dalam Raudhatul Thalibin menegaskan:

يُشْتَرَطُ فِي الْحَجَرِ أَنْ يَكُوْنَ طَاهِرًا فَلَوِ اسْتَجْمَرَ بِنَجِسٍ لَمْ يُجْزِئْهُ لِأَنَّهُ لَا يَحْصُلُ بِهِ إِزَالَةُ النَّجَاسَةِ بَلْ يَزِيْدُهَا

Artinya: “Disyaratkan batu harus suci, apabila seseorang beristinja’ dengan batu yang najis maka tidak mencukupi, karena batu najis tidak mampu menghilangkan najis bahkan justru menambah kenajisan.”[22]

Dalam kesempatan lain beliau juga menulis

وَاشْتُرِطَ طَهَارَةُ الْأَحْجَارِ، فَلَوِ اسْتَنْجَى بِحَجَرٍ نَجِسٍ لَمْ يُجْزِهِ، لِأَنَّهُ يَنْقُلُ النَّجَاسَةَ إِلَى مَحَلِّهِ وَيَزِيدُهَا شَرًّا

Artinya: “Disyaratkan kesucian batu. Maka jika seseorang beristinja’ dengan batu najis, tidak sah baginya, karena ia memindahkan najis ke tempatnya dan menambah keburukan.”[23]

Syaikh Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu‘in juga menyebutkan:

وَيُجْزِئُ فِي الِاسْتِنْجَاءِ حَجَرٌ طَاهِرٌ قَالِعٌ لِلنَّجَاسَةِ غَيْرُ مُحْتَرَمٍ

Artinya: “Dan mencukupi dalam istinja menggunakan batu yang suci, yang dapat mengangkat najis, dan bukan benda yang dimuliakan.”[24]

E. BENDA-BENDA YANG DAPAT MENGGANTIKAN BATU

Para ulama mazhab Syafi’i telah meluaskan kebolehan penggunaan batu kepada benda-benda padat lain yang memiliki sifat serupa. Benda tersebut harus bersifat mutlaq (tidak bernyawa), suci, tidak terhormat/mulia secara syariat, dan mampu mengangkat najis. Imam al-Mahalli dalam Syarh al-Minhaj menerangkan:

وَيَقُوْمُ مَقَامَ الْحَجَرِ كُلُّ جَامِدٍ طَاهِرٍ قَالِعٍ غَيْرِ مُحْتَرَمٍ كَخَشَبٍ وَخِرَقٍ وَنَحْوِهِمَا

Artinya: “Yang dapat menggantikan kedudukan batu adalah setiap benda padat, suci, mampu mengangkat najis, dan tidak terhormat (secara syariat), seperti kayu, kain, dan sejenisnya.”[25]

Adapun benda-benda yang tidak boleh digunakan sebagai pengganti batu untuk istinja’ adalah: (1) tulang, karena merupakan makanan jin sebagaimana disebutkan dalam hadits; (2) kotoran hewan (bul‘uth); (3) benda-benda yang dimakan manusia sebagai makanan; (4) benda-benda yang bernilai tinggi dan terhormat seperti bagian dari al-Quran; dan (5) benda-benda yang tidak mampu mengangkat najis karena terlalu licin atau rapuh.

F. PERBANDINGAN KEUTAMAAN AIR DAN BATU DALAM ISTINJA’

Dalam mazhab Syafi’i, disepakati bahwa menggunakan air untuk istinja’ lebih utama (afḍal) daripada batu, karena air mampu menghilangkan najis secara lebih sempurna. Namun menggunakan keduanya secara bersamaan (al-jam‘u bayna al-mā’ wal-ḥajar) adalah yang paling utama.

الْأَفْضَلُ الْجَمْعُ بَيْنَ الْمَاءِ وَالْحَجَرِ بِأَنْ يَبْدَأَ بِالْحَجَرِ ثُمَّ يُتْبِعَهُ بِالْمَاءِ لِأَنَّهُ أَبْلَغُ فِيْ الْإِنْقَاءِ

Artinya: “Yang paling utama adalah menggabungkan antara air dan batu, yaitu dengan mendahulukan batu lalu menyusulnya dengan air, karena cara demikian lebih sempurna dalam membersihkan.”[26]

Hikmah yang dapat dipetik dari penggabungan keduanya adalah: batu terlebih dahulu mengangkat wujud fisik najis, kemudian air menyempurnakan pembersihan terhadap bekas-bekasnya. Dengan demikian, kebersihan yang dicapai menjadi lebih menyeluruh dan sempurna.

G. TABEL RINGKASAN SYARAT ISTINJA’ DENGAN BATU

No

Syarat

Hukum

1

Kuantitas

Minimal 3 usapan/batu

2

Kualitas

Harus sampai bersih (Inqā’)

3

Kondisi Najis

Tidak boleh kering

4

Lokasi Najis

Tidak boleh bergeser/pindah

5

Kemurnian

Tidak tercampur benda asing

6

Batas Geografis

Tidak melewati Ṣafḥah / Ḥasyafah

7

Interaksi Cairan

Tidak boleh terkena air terlebih dahulu

8

Status Alat

Batu harus suci dan keras

 

H. ANALISIS MAQĀṢIDĪ DAN RELEVANSI KONTEMPORER

1. Hikmah di Balik Syarat-Syarat Tersebut

Secara makro, kedelapan syarat ini mengajarkan prinsip al-masyaqqah tajlibu at-taisīr (kesulitan mendatangkan kemudahan) sekaligus lā ḍarara wa lā ḍirār (tidak boleh membahayakan diri sendiri). Istinja’ dengan batu adalah bentuk keringanan ketika air tidak tersedia. Namun keringanan ini tetap dibatasi oleh syarat-syarat yang menjaga kebersihan dan kesehatan. Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh al-Ṭahārah mengomentari:

إِنَّ هَذِهِ الشُّرُوطَ الثَّمَانِيَةَ تُبَيِّنُ عِنَايَةَ الْإِسْلَامِ بِالنَّظَافَةِ، وَأَنَّ الرُّخَصَ لَيْسَتْ فَوْضَى بَلْ مَضْبُوطَةٌ بِضَوَابِطَ عَقْلِيَّةٍ وَشَرْعِيَّةٍ

Artinya: “Sesungguhnya delapan syarat ini menunjukkan perhatian Islam terhadap kebersihan, dan bahwa keringanan bukanlah tanpa aturan, melainkan diatur dengan kaidah-kaidah rasional dan syar‘i.”[27]

Dari sudut maqāṣid al-sharī‘ah, istinja’ dengan batu mengandung tujuan menjaga kesucian badan, menjaga sahnya ibadah, dan melatih kedisiplinan dalam kehidupan muslim. Kebersihan sebelum shalat bukan sekadar syarat formal, tetapi bagian dari adab berdiri di hadapan Allah.

2. Relevansi di Era Modern

Pada tataran praktik, pembahasan ini juga mendidik umat agar tidak meremehkan kebersihan setelah buang hajat. Dalam kehidupan modern, sebagian orang mungkin menganggap istinja’ cukup dengan sekali usap atau dengan kebiasaan yang tidak teratur. Padahal, fikih Syafi‘i menuntut standar yang lebih cermat: alatnya suci, jumlah usapannya memadai, najisnya belum berubah keadaan, dan tempatnya belum melampaui batas.

Meskipun saat ini hampir semua rumah memiliki air bersih dan tisu basah, pemahaman tentang istinja’ dengan batu tetap relevan dalam beberapa konteks:

·         Kondisi darurat: seperti saat camping, bencana alam, atau di tempat yang tidak ada air.

·         Prinsip efisiensi air: dalam Islam, membasuh dengan air hingga tiga kali adalah sunnah, namun jika cukup dengan batu atau tisu (sebagai pengganti batu modern), maka itu diperbolehkan asalkan memenuhi syarat.

·         Pendidikan karakter: mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kebersihan bahkan dalam hal yang paling kecil sekalipun.

3. Catatan Kritis: Tisu sebagai Pengganti Batu

Para ulama kontemporer seperti Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islāmi wa Adillatuhu menyatakan bahwa tisu modern yang kasar dan menyerap dapat menggantikan batu, selama memenuhi syarat-syarat di atas: suci, tidak terkena air, minimal tiga kali usapan, dll. Namun jika tisu terlalu lembut dan tidak mampu mengangkat najis, maka tidak sah.[28]

I. KESIMPULAN

Berdasarkan kajian mendalam terhadap teks Safinatun Najāh bab istinja’ dengan batu yang telah diintegrasikan dengan berbagai syarah seperti Al-Kasyifatu as-Saja, Tuhfatul Habib, Tuhfatul Muhtaj, Fathul Mu‘in, Fath al-Qarīb, Al-Majmū‘, Nihayatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Asna al-Mathalib, Hasyiyah al-Bajuri, dan lain-lain, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Istinja’ dengan batu memiliki delapan syarat yang bersifat kumulatif: (1) menggunakan minimal tiga batu/usapan; (2) batu mampu membersihkan tempat najis hingga bersih; (3) najis belum kering; (4) najis belum berpindah tempat; (5) tidak ada najis lain yang menimpa; (6) najis tidak melampaui ṣafḥah dan ḥasyafah; (7) najis tidak terkena air terlebih dahulu; dan (8) batu yang digunakan harus suci.

2. Kedelapan syarat ini tidak semata-mata formalitas, melainkan mengandung hikmah kebersihan, kesehatan, dan kemudahan yang proporsional. Syariat menghendaki kebersihan yang nyata, kepastian hukum, dan kemudahan dalam pelaksanaan.

3. Para ulama mazhab Syafi‘i, seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar al-Haitami, ar-Ramli, al-Khatib asy-Syirbini, Zakariyya al-Anṣari, Ibn Qasim al-Ghazzī, al-Bajuri, al-Mahalli, serta ulama Nusantara seperti Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Zainuddin al-Malibari, telah memberikan penjelasan rinci yang memperkuat pemahaman teks.

4. Di era modern, tisu atau kertas kasar dapat menjadi pengganti batu selama memenuhi semua syarat tersebut. Namun prinsip utama tetap pada efektivitas pembersihan dan kesucian alat. Menggabungkan batu (atau penggantinya) dengan air adalah cara yang paling utama.

Kajian ini mengingatkan kita akan pentingnya memahami fiqih secara mendalam bukan hanya pada tataran hafalan teks, tetapi juga pada pemahaman ‘illat (alasan hukum) dan hikmah di balik setiap ketentuan. Dengan memahami mengapa setiap syarat ditetapkan, seorang muslim akan mampu mengaplikasikan hukum-hukum tersebut dengan lebih tepat dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menghadapi situasi-situasi kontemporer yang tidak secara eksplisit disebutkan dalam kitab-kitab klasik.

Wallahu a‘lam bi aṣ-ṣawāb.

J. DAFTAR PUSTAKA

 

Al-‘Abbadi, Ahmad bin Qasim. Hasyiyah al-‘Abbadi ‘ala Tuhfah al-Muhtaj. Beirut: Dar Sadir, t.t.

Al-Anṣari, Zakariyya bin Muhammad. Asna al-Mathalib Syarh Raudh al-Thalib. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2000.

Al-Anṣari, Zakariyya. Fatḥ al-Wahhāb bi Syarḥ Manhaj al-Ṭullāb. Beirut: Dar al-Fikr, 1994.

Al-Bajuri, Ibrahim. Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Syarh Ibn Qasim al-Ghuzzi. Beirut: Dar al-Fikr, 1995.

Al-Bujairami, Sulaiman. Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib. Beirut: Dar al-Fikr, 1995.

Al-Bujairimi, Sulaiman. Hāsyiyah al-Bujairimi ‘alā al-Khaṭīb. Beirut: Dar al-Fikr, 1995.

Al-Ghazzī, Muḥammad bin Qāsim. Fath al-Qarīb al-Mujīb. Beirut: al-Jafān wa al-Jābī dan Dār Ibn Ḥazm, 1425 H/2005 M.

Al-Hadhrami, Salim bin Sumair. Safinatun Najah. Beirut: Dār al-Minhāj, 2009; juga Surabaya: Maktabah Ahmad bin Sa’ad bin Nabhan, t.t.

Al-Haitami, Ahmad bin Muhammad Ibnu Hajar. Tuhfatul Muhtaj bi Syarh al-Minhaj. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, t.t.; juga Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2010; dan Mesir: Al-Maktabah at-Tijariyah al-Kubra, 1983.

Al-Jawi, Muhammad Nawawi. Al-Kasyifatu as-Saja Syarh Safinati an-Naja. Jakarta: Darul Kutub al-Islamiyah, 2008.

Al-Khatib asy-Syarbini, Syamsuddin Muhammad. Mughnil Muhtaj ila Ma‘rifat Ma‘ani Alfazh al-Minhaj. Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1997.

Al-Mahalli, Jalaluddin. Syarh al-Minhaj li Imam al-Nawawi (Kanz ar-Raghibin). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.

Al-Malibari, Zainuddin. Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratil ‘Ain. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2010.

Al-Qaradawi, Yusuf. Fiqh al-Ṭahārah. Kairo: Maktabah Wahbah, 1995.

Al-Qusyairi, Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, t.t.

An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Majmū‘ Sharḥ al-Muhadhdhab. Jeddah: Maktabah al-Irsyad, t.t.; juga Cairo: al-Maṭba‘ah al-Munīriyyah, 1344–1347 H.

An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Raudhatul Thalibin wa ‘Umdatul Muftin. Beirut: al-Maktab al-Islami, 1991.

An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Rawḍah al-Ṭālibīn. Beirut: Dar al-Fikr, 2000.

Ar-Ramli, Syamsuddin Muhammad. Nihayatul Muhtaj ila Syarh al-Minhaj. Beirut: Dar al-Fikr, 1984.

Az-Zuhaili, Wahbah. Al-Fiqh al-Islāmi wa Adillatuhu. Damaskus: Dar al-Fikr, 2007.

Ibnu Qasim al-Ghazi, Muhammad. Fatḥ al-Qarīb al-Mujīb. Beirut: Dar al-Fikr, 1970; juga edisi Beirut: al-Jafān wa al-Jābī dan Dār Ibn Ḥazm, 1425 H/2005 M.

Nawawi al-Jawi, Muhammad bin ‘Umar. Marāqī al-‘Ubudiyyah. Semarang: Toha Putra, t.t.

Syibramalisi, ‘Ali. Hasyiyah ‘alā Nihāyah al-Muḥtāj. Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1967.



[1] Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzdzab, Jeddah: Maktabah al-Irsyad, t.t., Juz II, hlm. 95

[2] Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi, Shahih Muslim, Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, t.t., Juz I, hlm. 223, Hadits No. 262

[3] Syamsuddin Muhammad ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, Beirut: Dar al-Fikr, 1984, Juz I, hlm. 119

[4] Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Al-Majmū‘ Sharḥ al-Muhadhdhab, Cairo: al-Maṭba‘ah al-Munīriyyah, 1344–1347 H, jilid 2, hlm. 130–131

[5] Syaikh al-Islam Zakariyya al-Anṣari, Fatḥ al-Wahhāb bi Syarḥ Manhaj al-Ṭullāb, Beirut: Dar al-Fikr, 1994, juz 1, h. 45

[6] Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi, Al-Kasyifatu as-Saja Syarh Safinati an-Naja, Jakarta: Darul Kutub al-Islamiyah, 2008, Hal. 42

[7] Ahmad bin Muhammad Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarh al-Minhaj, Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, t.t., Juz I, hlm. 164

[8] Ahmad bin Muhammad Ibnu Hajar al-Haitami, Tuḥfah al-Muḥtāj, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2010, juz 1, h. 200)

[9] Zakariyya bin Muhammad al-Anṣari, Asna al-Mathalib Syarh Raudh al-Thalib, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2000, Juz I, hlm. 56

[10] Imam al-Khatib asy-Syirbini dalam, Mughnī al-Muḥtāj, (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1997, juz 1, h. 120)

[11] Syekh Sulaiman al-Bujairami, Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib, Beirut: Dar al-Fikr, 1995, Jilid 1, Hal. 201)

[12] Syaikh ‘Ali Syibramalisi, Hasyiyah ‘alā Nihāyah al-Muḥtāj, (Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1967, juz 1, h. 89)

[13] Syamsuddin Muhammad al-Khatib asy-Syarbini, Mughnil Muhtaj ila Ma'rifat Ma'ani Alfazh al-Minhaj, Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1997, Juz I, hlm. 168

[14] Imam ar-Ramli, Nihāyah al-Muḥtāj, (Beirut: Dar al-Fikr, 1984, juz 1, h. 150)

[15] Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, Mesir: Al-Maktabah at-Tijariyah al-Kubra, 1983, Jilid 1, Hal. 172

[16] Ahmad bin Qasim al-‘Abbadi, Hasyiyah al-‘Abbadi ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, Beirut: Dar Sadir, t.t., Juz I, hlm. 247

[17] Syaikh Muhammad bin ‘Umar Nawawi al-Jawi, Marāqī al-‘Ubudiyyah, (Semarang: Toha Putra, t.t., h. 15)

[18] Ahmad bin Muhammad Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarh al-Minhaj, Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, t.t., Juz I, hlm. 167

[19] Imam al-Bujairimi, Hāsyiyah al-Bujairimi ‘alā al-Khaṭīb, (Beirut: Dar al-Fikr, 1995, juz 1, h. 210)

[20] Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Syarh Ibn Qasim al-Ghuzzi, Beirut: Dar al-Fikr, 1995, Juz I, hlm. 76

[21] Ibnu Qasim al-Ghazi, Fatḥ al-Qarīb al-Mujīb (Beirut: Dar al-Fikr, 1970, h. 21)

[22] Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Raudhatul Thalibin wa ‘Umdatul Muftin, Beirut: al-Maktab al-Islami, 1991, Juz I, hlm. 48

[23] Imam an-Nawawi, Rawḍah al-Ṭālibīn (Beirut: Dar al-Fikr, 2000, juz 1, h. 98)

[24] Syekh Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratil ‘Ain, Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2010, Hal. 48)

[25] Jalaluddin al-Mahalli, Syarh al-Minhaj li Imam al-Nawawi (Kanz ar-Raghibin), Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t., Juz I, hlm. 42

[26] Syamsuddin Muhammad ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, Beirut: Dar al-Fikr, 1984, Juz I, hlm. 124

[27] Syaikh Yusuf al-Qaradawi, Fiqh al-Ṭahārah (Kairo: Maktabah Wahbah, 1995, h. 87)

[28] Dr. Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islāmi wa Adillatuhu, (Damaskus: Dar al-Fikr, 2007, juz 1, h. 420)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama