Daftar isi
1. Latar Belakang dan
Urgensi Kajian
2. Tujuan dan
Metodologi Kajian
C. DASAR HUKUM ISTINJA’
DENGAN BATU
D. ANALISIS TERPERINCI
DELAPAN SYARAT
Syarat Pertama:
Menggunakan Tiga Batu (An Yakūna bi Tsalātsati Aḥjār)
Syarat Kedua: Mampu
Membersihkan Tempat Najis (An Yunqiya al-Maḥalla)
Syarat Ketiga: Najis
Belum Mengering (An Lā Yajiffa an-Najsu)
Syarat Keempat: Najis
Belum Berpindah Tempat (An Lā Yantaqila)
Syarat Kelima: Tidak
Tercampur dengan Najis atau Benda Lain (An Lā Yaṭra’a ‘Alaihi Ākhar)
Syarat Kedelapan: Batu
Harus Suci (An Takuna al-Aḥjāru Ṭāhiratan)
E. BENDA-BENDA YANG
DAPAT MENGGANTIKAN BATU
F. PERBANDINGAN
KEUTAMAAN AIR DAN BATU DALAM ISTINJA’
G. TABEL RINGKASAN
SYARAT ISTINJA’ DENGAN BATU
H. ANALISIS MAQĀṢIDĪ
DAN RELEVANSI KONTEMPORER
1. Hikmah di Balik
Syarat-Syarat Tersebut
3. Catatan Kritis: Tisu
sebagai Pengganti Batu
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang dan Urgensi
Kajian
Bersuci
(ṭahārah) merupakan salah satu pilar utama dalam ibadah Islam. Tanpa kesucian,
tidak ada shalat yang sah, tidak ada thawaf yang diterima, dan tidak ada ibadah
ritual yang sempurna. Oleh karena itu, para ulama fiqih dari generasi ke
generasi senantiasa memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bab ṭahārah,
termasuk di dalamnya permasalahan istinja’ (bersuci dari najis yang keluar dari
dua jalan: qubul dan dubur).
Istinja’
secara etimologis berasal dari kata najā yanjū yang berarti “selamat, terbebas,
atau terlepas”. Dalam terminologi syariat, istinja’ dimaknai sebagai upaya
menghilangkan najis yang keluar dari qubul atau dubur, baik menggunakan air,
batu, atau benda-benda tertentu yang memiliki sifat membersihkan. Walaupun air
merupakan alat penyuci utama (al-aṣl fī al-muṭahhirāt), syariat memberikan
keringanan (rukḥṣah) bagi mukalaf untuk menggunakan benda padat seperti batu
dalam kondisi tertentu. Imam an-Nawawi rahimahullah memberikan definisi yang
lebih teknis:
الاِسْتِنْجَاءُ
إِزَالَةُ النَّجَاسَةِ الْخَارِجَةِ مِنَ السَّبِيْلَيْنِ بِالْمَاءِ أَوِ
الْأَحْجَارِ وَمَا فِيْ مَعْنَاهَا
Artinya:
“Istinja’ adalah menghilangkan najis yang keluar dari dua jalan (qubul dan
dubur) dengan menggunakan air, batu, atau benda-benda yang semakna dengannya.”[1]
Kitab
Safinatun Najah merupakan salah satu karya monumental dalam khazanah fiqih
mazhab Syafi’i. Kitab ini dikarang oleh Syaikh Salim bin Sumair al-Haḍrami (w.
1270 H), seorang ulama besar asal Hadramaut, Yaman. Nama lengkap kitab ini
adalah Safinatun Najah fii maa Yajibu ‘alal ‘Abdi li Maulaah (سَفِيْنَةُ
النَّجَاهِ فِيْمَا يَجِبُ عَلَى الْعَبْدِ لِمَوْلَاهُ) yang secara harfiah berarti ‘Perahu Keselamatan dalam Hal-hal
yang Wajib diketahui Seorang Hamba kepada Tuhannya’. Kitab yang ringkas namun
padat isi ini telah menjadi pegangan utama kaum muslimin di Nusantara selama
berabad-abad.
Salah
satu bahasan penting dalam kitab ini adalah pasal mengenai syarat-syarat sahnya
istinja’ menggunakan batu (al-aḥjār). Dalam tradisi fiqih Islam, istinja’ boleh
dilakukan dengan air, batu, atau keduanya secara bersamaan (al-jam‘u baina
al-mā’ wal-ḥajar). Namun ketika seseorang memilih menggunakan batu—yang dalam
konteks modern dapat diperluas kepada benda-benda padat sejenis yang memenuhi
syarat—terdapat delapan syarat yang harus dipenuhi agar istinja’nya dianggap
sah dan sempurna menurut mazhab Syafi’i.
2. Tujuan dan Metodologi
Kajian
Kajian
ini bertujuan untuk memaparkan secara terperinci, mendalam, dan sistematis
kedelapan syarat tersebut dengan pendekatan tekstual (naṣṣi), yuridis (fiqhi),
dan filosofis (maqāṣidi), serta menghadirkan komentar para ulama mazhab Syafi’i
sebagai pengayaan. Metodologi yang digunakan adalah deskriptif-analitis dengan
pendekatan taḥlīl al-naṣṣ dan dirāsah muqāranah.
B. TEKS DASAR DAN TERJEMAH
Berikut
adalah teks asli dari Safinatun Najah bab istinja’ yang menjadi objek kajian.
Teks ini dinisbatkan kepada Syaikh Salim bin Sumair al-Haḍrami dalam Safinatun
Najah (Beirut: Dār al-Minhāj, 2009, hlm. 17; juga Surabaya: Maktabah Ahmad bin
Sa’ad bin Nabhan, t.t.).
(
فَصْلٌ) وَشُرُوْطُ إِجْزَاءِ الْحَجَرِ ثَمَانِيَةٌ: أَنْ يَكُوْنَ بِثَلَاثَةِ
أَحْجَارٍ، وَأَنْ يُنْقِيَ الْمَحَلَّ، وَأَنْ لَا يَجِفَّ النَّجِسُ، وَأَنْ لَا
يَنْتَقِلَ، وَلَا يَطْرَأَ عَلَيْهِ آخَرُ، وَلَا يُجَاوِزَ صَفْحَتَهُ
وَحَشَفَتَهُ، وَلَا يُصِيْبَهُ مَاءٌ، وَأَنْ تَكُوْنَ الْأَحْجَارُ طَاهِرَةً
Artinya: (Fasal) Syarat-syarat yang memadai dalam bersuci menggunakan
batu ada delapan: (1) menggunakan tiga batu; (2) batu tersebut mampu
membersihkan tempat najis; (3) najis belum mengering; (4) najis belum berpindah
tempat; (5) najis tersebut tidak tercampur dengan najis lain; (6) najis tidak
melampaui ṣafḥah dan ḥasyafah; (7) najis tidak terkena air; dan (8) batu-batu
tersebut harus suci.
Kedelapan
syarat ini bersifat kumulatif; apabila salah satu tidak terpenuhi, maka
istinja’ dengan batu tidak dianggap sah dan wajib menggunakan air. Pernyataan
singkat ini memuat bangunan fikih yang sangat padat: bukan sekadar tata cara
membersihkan najis, melainkan juga penegasan bahwa syariat Islam memerhatikan
kebersihan, kehati-hatian, dan kemudahan secara seimbang.
C. DASAR HUKUM ISTINJA’ DENGAN
BATU
Kebolehan
istinja’ menggunakan batu memiliki dasar yang kuat dalam al-Sunnah. Rasulullah ﷺ secara tegas memerintahkan penggunaan batu
dalam bersuci dan bahkan memberikan batasan minimal penggunaannya. Di antara
hadits yang menjadi dasar hukumnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim:
عَنْ
سَلْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: نَهَانَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ
Artinya:
“Dari Salman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Rasulullah ﷺ melarang kami bersuci dengan menggunakan
kurang dari tiga batu.’”[2]
Hadits
ini menjadi landasan utama syarat pertama dari delapan syarat istinja’ dengan
batu, yaitu penggunaan minimal tiga batu. Para ulama mazhab Syafi’i kemudian
melengkapi syarat-syarat operasional lainnya berdasarkan ijtihad dan qiyas yang
bersumber dari prinsip-prinsip umum ṭahārah dalam al-Quran dan al-Sunnah.
D. ANALISIS TERPERINCI DELAPAN
SYARAT
Syarat Pertama: Menggunakan
Tiga Batu (An Yakūna bi Tsalātsati Aḥjār)
Teks
Arab:
أَنْ
يَكُوْنَ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ
Penjelasan:
Syarat
pertama menekankan aspek kuantitas minimal. Meskipun tempat keluarnya najis
sudah bersih dengan satu atau dua kali usapan, secara hukum syariat tetap
mewajibkan penggunaan tiga buah batu (atau satu batu besar yang memiliki tiga
sisi/permukaan, atau tiga kali usapan). Para ulama mazhab Syafi’i berpendapat
bahwa bilangan tiga ini bersifat ta‘abbudī (ketentuan syariat yang tidak dapat
dianalogikan), bukan sekadar anjuran. Imam ar-Ramli menjelaskan:
يَجِبُ
أَنْ يَكُوْنَ الِاسْتِجْمَارُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَأَكْثَرَ وَلَوْ فِيْ
حَجَرٍ وَاحِدٍ لَهُ ثَلَاثَةُ أَطْرَافٍ أَوْ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ
Artinya:
“Wajib hukumnya istijmar (bersuci dengan batu) dilakukan dengan tiga batu atau
lebih, meskipun batu tersebut hanya satu batu yang memiliki tiga ujung atau
tiga sisi.”[3]
Imam
an-Nawawi dalam Al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab menegaskan bahwa para ulama
Syafi‘iyyah sepakat tentang bolehnya istinja’ dengan batu dan yang semakna
dengannya:
وَسَوَاءٌ
فِي ذَلِكَ الْأَحْجَارُ وَالْأَخْشَابُ وَالْخِرَقُ
Artinya:
“Sama saja dalam hal itu batu, kayu, dan kain.”[4]
Syaikh
al-Islam Zakariyya al-Anṣari dalam Fatḥ al-Wahhāb bi Syarḥ Manhaj al-Ṭullāb
(Beirut: Dar al-Fikr, 1994, juz 1, h. 45) menjelaskan:
وَالثَّلَاثَةُ
هِيَ الْأَدْنَى فِي الْحَجَرِ، فَإِنْ زَادَ فَهُوَ أَكْمَلُ، وَلَكِنْ لَا
يَنْبَغِي أَنْ يُجَاوِزَ ثَلَاثَ مَسَحَاتٍ إِنْ حَصَلَ الْإِنْقَاءُ
Artinya: “Tiga
adalah batas minimal dalam penggunaan batu. Jika lebih, maka lebih sempurna.
Namun tidak boleh melebihi tiga usapan jika sudah bersih.”[5]
Ulama
Syafi‘iyyah juga lain menekankan hal yang sama, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh
Nawawi al-Bantani dalam Kasyifatu as-Saja:
عَنْ
سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ رضي الله عنه قَالَ: لَقَدْ نَهَانَا (صلى الله عليه
وسلم) أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ، أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ
بِالْيَمِينِ، أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ
Artinya:
“Dari Salman al-Farisi RA, ia berkata: Sungguh Rasulullah SAW telah melarang
kami menghadap kiblat saat buang air besar atau kecil, melarang beristinja
dengan tangan kanan, dan melarang beristinja dengan kurang dari tiga buah
batu.”[6]
Dari
keterangan ini, syarat pertama menekankan pada jumlah minimal usapan, bukan
jumlah fisik batu. Ini merupakan bentuk rukḥṣah (keringanan) untuk menghindari
penggunaan air dalam kondisi terbatas.
Syarat Kedua: Mampu
Membersihkan Tempat Najis (An Yunqiya al-Maḥalla)
Teks
Arab:
وَأَنْ
يُنْقِيَ الْمَحَلَّ
Penjelasan:
Kata
yunqiya berasal dari akar kata naqā – yanqī yang berarti “bersih dari kotoran”.
Tujuan utama istinja’ adalah inqā’ (pembersihan total dari zat najis). Syarat
kedua ini mewajibkan tempat keluarnya najis harus benar-benar bersih sehingga
tidak ada lagi bagian najis yang tersisa, kecuali bekas yang hanya bisa
dihilangkan dengan air (al-atsar al-ladzī lā yazūlu illā bi al-mā’). Jika
setelah tiga kali usapan tempat tersebut belum bersih, maka wajib menambah
usapan hingga bersih. Imam Ibnu Hajar al-Haitami Tuhfatul Muhtaj bi Syarh
al-Minhaj menjelaskan:
وَيَجِبُ
الْإِنْقَاءُ وَهُوَ إِزَالَةُ عَيْنِ النَّجَاسَةِ حَتَّى لَا يَبْقَى إِلَّا مَا
يَشُقُّ إِزَالَتُهُ مِنَ الْأَثَرِ وَالرَّائِحَةِ وَاللَّوْنِ
Artinya:
“Wajib hukumnya mencapai inqa’ (kebersihan), yaitu menghilangkan wujud fisik
najis hingga tidak tersisa kecuali bekas yang sulit dihilangkan berupa warna
atau bau.”[7]
Dalam
Tuḥfah al-Muḥtāj yang lain (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2010, juz 1, h.
200) beliau juga menulis:
وَشَرْطُ
الْإِنْقَاءِ: أَنْ لَا يَبْقَى عَيْنُ النَّجَسِ، سَوَاءٌ بَقِيَ أَثَرُهُ أَمْ
لَا، فَالْعِبْرَةُ بِزَوَالِ الْجُرْمِ لَا بِزَوَالِ اللَّوْنِ وَالرَّائِحَةِ
Artinya: Syarat
inqā’ adalah tidak tersisa zat najis itu sendiri, baik tersisa bekasnya atau
tidak. Yang menjadi patokan adalah hilangnya jirim (partikel najis), bukan
hilangnya warna dan bau.”[8]
Dengan
demikian, jika setelah diusap dengan batu masih tersisa warna atau bau namun
tidak ada zatnya, maka hukumnya tetap suci. Ini merupakan salah satu kemudahan
syariat.
Syarat Ketiga: Najis Belum
Mengering (An Lā Yajiffa an-Najsu)
Teks
Arab:
وَأَنْ
لَا يَجِفَّ النَّجِسُ
Penjelasan:
Syarat
ini sangat logis karena batu berfungsi mengangkat najis basah melalui gesekan.
Jika najis sudah kering, batu tidak akan mampu mengangkatnya kecuali dengan
tekanan keras yang justru dapat melukai kulit. Dalam kondisi ini, penggunaan
batu tidak lagi mencukupi, dan wajib menggunakan air. Imam Zakariyya al-Anṣari
menjelaskan hikmahnya:
فَإِنْ
جَفَّ النَّجِسُ لَمْ يُجْزِئِ الْحَجَرُ لِأَنَّهُ لَا يُزِيْلُهُ غَالِبًا
وَالشَّرْطُ الْإِزَالَةُ
Artinya: Artinya:
“Apabila najis telah mengering maka batu tidak mencukupi karena batu pada
umumnya tidak mampu menghilangkannya, sedangkan syarat yang dituntut adalah
hilangnya najis.”[9]
Imam
al-Khatib asy-Syirbini dalam Mughnī al-Muḥtāj menjelaskan:
فَإِنْ
جَفَّ النَّجَسُ لَمْ يُجْزِ الْحَجَرُ؛ لِأَنَّ الْحَجَرَ إِنَّمَا يُزِيلُ
الرَّطْبَ بِالْمَسْحِ، وَالْيَابِسُ لَا يُزَالُ إِلَّا بِالْمَاءِ أَوْ بِحَكٍّ
شَدِيدٍ ضَارٍّ
Artinya: “Apabila
najis telah kering, maka batu tidak mencukupi (tidak sah), karena batu hanya
menghilangkan najis basah dengan usapan. Adapun najis kering tidak dapat
dihilangkan kecuali dengan air atau dengan gesekan keras yang membahayakan.”[10]
Syaikh
Sulaiman al-Bujairami dalam Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib juga menyatakan:
وَلَوْ
جَفَّ النَّجِسُ فَلَا يُجْزِئُ فِيهِ إلَّا الْمَاءُ لِأَنَّ الْحَجَرَ لَا
يُزِيْلُهُ
Artinya:
“Jika najis telah kering, maka tidak cukup baginya kecuali dengan air, karena
batu tidak mampu menghilangkannya.”[11]
Syaikh
‘Ali Syibramalisi dalam Hasyiyah ‘alā Nihāyah al-Muḥtāj menambahkan
bahwa batasan “kering” adalah ketika najis sudah tidak membasahi batu saat
diusap.[12]
Syarat Keempat: Najis Belum
Berpindah Tempat (An Lā Yantaqila)
Teks
Arab:
وَأَنْ
لَا يَنْتَقِلَ
Penjelasan:
Najis
yang keluar harus tetap berada di area asalnya saat keluar. Jika najis telah
bergeser atau berpindah ke area lain dari tubuh (misalnya karena gerakan tubuh
atau gesekan pakaian), maka area baru tersebut wajib dibersihkan dengan air.
Batu hanya berlaku untuk area yang dilewati langsung oleh najis saat proses
istifrāgh. Imam al-Khatib asy-Syarbini memberikan rincian:
فَإِنِ
انْتَقَلَ النَّجِسُ عَنْ مَوْضِعِهِ إِلَى مَوْضِعٍ آخَرَ مِنَ الْبَدَنِ لَمْ
يَكْفِ فِيْهِ الْحَجَرُ لِأَنَّهُ صَارَ نَجَاسَةً غَيْرَ مَعْفُوٍّ عَنْهَا فِيْ
غَيْرِ مَوْضِعِهَا
Artinya:
“Apabila najis berpindah dari tempatnya ke bagian lain tubuh, maka batu tidak
lagi mencukupi, karena najis tersebut telah menjadi najis yang tidak dimaafkan
di luar tempatnya semula.”[13]
Imam
ar-Ramli dalam Nihāyah al-Muḥtāj (Beirut: Dar al-Fikr, 1984, juz 1, h. 150)
menegaskan:
فَإِنِ
انْتَقَلَ النَّجَسُ عَنْ مَحَلِّهِ الْأَصْلِيِّ بِغَيْرِ فِعْلِ الْمُسْتَنْجِي،
كَالْمَشْيِ، لَمْ يُجْزِ الْحَجَرُ فِي الْمُنْتَقِلِ؛ لِأَنَّهُ صَارَ
كَنَجَاسَةٍ جَدِيدَةٍ
Artinya:
“Jika najis berpindah dari tempat asalnya tanpa disengaja oleh orang yang
beristinja’, misalnya karena berjalan, maka batu tidak sah untuk membersihkan
najis yang telah berpindah itu, karena ia menjadi seperti najis baru.”[14]
Syarat Kelima: Tidak Tercampur
dengan Najis atau Benda Lain (An Lā Yaṭra’a ‘Alaihi Ākhar)
Teks
Arab:
وَلَا
يَطْرَأَ عَلَيْهِ آخَرُ
Penjelasan:
Syarat
ini menuntut kemurnian objek yang akan dibersihkan. Jika najis yang keluar
terkena benda asing, meskipun benda itu suci (seperti air mawar) atau terkena
najis lain yang bukan berasal dari dirinya, maka penggunaan batu dianggap
gugur. Kata yaṭra’ berarti “datang tiba-tiba” atau “menimpa”. Imam Ibnu Hajar
al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj menjelaskan:
أَنْ
لَا يَطْرَأَ عَلَيْهِ أَجْنَبِيٌّ وَلَوْ طَاهِرًا رَطْبًا كَمَاءٍ آخَرَ أَوْ
جَافًّا كَدُودٍ خَرَجَ مِنْهُ
Artinya:
“Jangan sampai najis tersebut kedatangan benda asing meskipun benda itu suci
lagi basah seperti air lain, atau kering seperti ulat yang keluar dari dubur
(lalu menempel kembali).”[15]
Imam
Ibnu Qasim al-‘Abbadi dalam Hasyiyah Tuhfatul Muhtaj menerangkan:
لَوْ
طَرَأَ عَلَى النَّجَاسَةِ الْأَصْلِيَّةِ نَجَاسَةٌ أُخْرَى مِنْ خَارِجٍ لَمْ
يَصِحَّ الِاسْتِجْمَارُ لِأَنَّ النَّجَاسَةَ الطَّارِئَةَ لَيْسَتْ مَعْفُوًّا
عَنْهَا
Artinya:
“Apabila datang najis lain dari luar yang menambah pada najis asli, maka
istijmar tidak sah karena najis yang baru datang tersebut tidak termasuk yang
dimaafkan.”[16]
Syaikh
Muhammad bin ‘Umar Nawawi al-Jawi (Banten) dalam Marāqī al-‘Ubudiyyah
menulis:
وَطُرُوءُ
نَجَسٍ آخَرَ يُبْطِلُ الِاسْتِنْجَاءَ بِالْحَجَرِ، لِأَنَّهُ يُصَيِّرُ
النَّجَاسَةَ مُتَعَدِّدَةً فَيَشْتَدُّ أَمْرُهَا، فَلَا بُدَّ مِنَ الْمَاءِ
Artinya: “Datangnya
najis lain membatalkan istinja’ dengan batu, karena ia menjadikan najis
tersebut berlipat sehingga memperparah keadaan, maka wajib menggunakan air.”[17]
Syarat
Keenam: Najis Tidak Melewati Batas Ṣafḥah dan Ḥasyafah (An Lā Yujāwizu Ṣafḥatahu
wa Ḥasyafatahu)
Teks
Arab:
وَلَا
يُجَاوِزَ صَفْحَتَهُ وَحَشَفَتَهُ
Penjelasan:
Ini
adalah batasan anatomis. Ṣafḥah (صَفْحَة) adalah permukaan pantat—yaitu daerah yang
tertutup ketika seseorang berdiri tegak baik dari sisi kanan maupun kiri. Ḥasyafah
(حَشَفَة) adalah kepala penis (glans), yaitu bagian yang tampak pada
laki-laki yang telah dikhitan. Batas ini penting karena menunjukkan bahwa
istinja’ dengan batu hanya dibolehkan pada area yang masih dalam koridor
keluarnya najis yang wajar. Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj bi Syarh al-Minhaj menjelaskan:
الصَّفْحَتَانِ
هُمَا جَانِبَا الْأَلْيَتَيْنِ وَالْحَشَفَةُ رَأْسُ الذَّكَرِ وَهِيَ الَّتِيْ
تَظْهَرُ بَعْدَ الْخِتَانِ فَإِنْ جَاوَزَ النَّجِسُ هَذِهِ الْحُدُوْدَ وَجَبَ
الْمَاءُ
Artinya:
“Dua shafḥah adalah dua sisi pantat, sedangkan ḥasyafah adalah kepala
penis—bagian yang terlihat setelah khitan. Apabila najis melampaui batas-batas
ini maka wajib menggunakan air.”[18]
Imam
al-Bujairimi dalam Hāsyiyah al-Bujairimi ‘alā al-Khaṭīb memberikan
komentar:
وَشَرَطُوا
عَدَمَ مُجَاوَزَةِ النَّجَسِ الصَّفْحَةَ وَالْحَشَفَةَ، لِأَنَّ مَا
وَرَاءَهُمَا لَيْسَ مِنْ مَحَلِّ الِاسْتِنْجَاءِ، فَيَحْتَاجُ إِلَى الْمَاءِ
تَطْهِيرًا
Artinya:
“Mereka (ulama) mensyaratkan tidak melampauinya najis terhadap ṣafḥah dan ḥasyafah,
karena area di luar keduanya bukanlah tempat istinja’, sehingga memerlukan air
untuk mensucikannya.”[19]
Syarat
Ketujuh: Tidak Terkena Air (An Lā Yuṣībahu Mā’un)
Teks
Arab:
وَلَا
يُصِيْبَهُ مَاءٌ
Penjelasan:
Jika
najis tersebut terkena air sebelum proses istinja’ dengan batu selesai, maka
najis tersebut menjadi “terkontaminasi”. Air yang sedikit yang mengenai najis
justru akan menyebarkan najis ke area yang lebih luas, sehingga syarat
penggunaan batu menjadi batal. Syaikh al-Bajuri menjelaskan hikmahnya:
لِأَنَّ
الْمَاءَ إِذَا أَصَابَ النَّجَاسَةَ نَشَّرَهَا وَأَفْسَدَ حُكْمَ
الِاسْتِجْمَارِ بِالْحَجَرِ إِذْ لَا يُمْكِنُ حِيْنَئِذٍ إِنْقَاؤُهَا بِهِ
Artinya:
“Karena air apabila mengenai najis akan menyebarkannya dan merusak keberlakuan
hukum istijmar dengan batu, sebab setelah itu tidak mungkin lagi
membersihkannya dengan batu.”[20]
Syaikh
Ibnu Qasim al-Ghazi dalam Fatḥ al-Qarīb al-Mujīb menyatakan:
فَإِنْ
أَصَابَ النَّجَسَ مَاءٌ قَبْلَ الِاسْتِنْجَاءِ بِالْحَجَرِ، لَمْ يُجْزِ
الْحَجَرُ؛ لِأَنَّ الْمَاءَ يَجْعَلُ النَّجَاسَةَ تَسْرِي وَتَلْتَصِقُ، فَلَا
يُزِيلُهَا الْحَجَرُ
Artinya:
“Jika najis terkena air sebelum istinja’ dengan batu, maka batu tidak sah;
karena air menyebabkan najis meresap dan melekat, sehingga batu tidak dapat
menghilangkannya.”[21]
Syarat
Kedelapan: Batu Harus Suci (An Takuna al-Aḥjāru Ṭāhiratan)
Teks
Arab:
وَأَنْ
تَكُوْنَ الْأَحْجَارُ طَاهِرَةً
Penjelasan:
Alat
yang digunakan untuk mensucikan haruslah suci pada dasarnya. Menggunakan batu
yang terkena najis (mutanajjis) hanya akan menambah kenajisan pada tempat tersebut.
Imam an-Nawawi dalam Raudhatul Thalibin menegaskan:
يُشْتَرَطُ
فِي الْحَجَرِ أَنْ يَكُوْنَ طَاهِرًا فَلَوِ اسْتَجْمَرَ بِنَجِسٍ لَمْ
يُجْزِئْهُ لِأَنَّهُ لَا يَحْصُلُ بِهِ إِزَالَةُ النَّجَاسَةِ بَلْ يَزِيْدُهَا
Artinya:
“Disyaratkan batu harus suci, apabila seseorang beristinja’ dengan batu yang
najis maka tidak mencukupi, karena batu najis tidak mampu menghilangkan najis
bahkan justru menambah kenajisan.”[22]
Dalam
kesempatan lain beliau juga menulis
وَاشْتُرِطَ
طَهَارَةُ الْأَحْجَارِ، فَلَوِ اسْتَنْجَى بِحَجَرٍ نَجِسٍ لَمْ يُجْزِهِ،
لِأَنَّهُ يَنْقُلُ النَّجَاسَةَ إِلَى مَحَلِّهِ وَيَزِيدُهَا شَرًّا
Artinya:
“Disyaratkan kesucian batu. Maka jika seseorang beristinja’ dengan batu najis,
tidak sah baginya, karena ia memindahkan najis ke tempatnya dan menambah
keburukan.”[23]
Syaikh
Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu‘in juga menyebutkan:
وَيُجْزِئُ
فِي الِاسْتِنْجَاءِ حَجَرٌ طَاهِرٌ قَالِعٌ لِلنَّجَاسَةِ غَيْرُ مُحْتَرَمٍ
Artinya:
“Dan mencukupi dalam istinja menggunakan batu yang suci, yang dapat mengangkat
najis, dan bukan benda yang dimuliakan.”[24]
E.
BENDA-BENDA YANG DAPAT MENGGANTIKAN BATU
Para
ulama mazhab Syafi’i telah meluaskan kebolehan penggunaan batu kepada
benda-benda padat lain yang memiliki sifat serupa. Benda tersebut harus
bersifat mutlaq (tidak bernyawa), suci, tidak terhormat/mulia secara syariat,
dan mampu mengangkat najis. Imam al-Mahalli dalam Syarh al-Minhaj menerangkan:
وَيَقُوْمُ
مَقَامَ الْحَجَرِ كُلُّ جَامِدٍ طَاهِرٍ قَالِعٍ غَيْرِ مُحْتَرَمٍ كَخَشَبٍ
وَخِرَقٍ وَنَحْوِهِمَا
Artinya:
“Yang dapat menggantikan kedudukan batu adalah setiap benda padat, suci, mampu
mengangkat najis, dan tidak terhormat (secara syariat), seperti kayu, kain, dan
sejenisnya.”[25]
Adapun
benda-benda yang tidak boleh digunakan sebagai pengganti batu untuk istinja’
adalah: (1) tulang, karena merupakan makanan jin sebagaimana disebutkan dalam
hadits; (2) kotoran hewan (bul‘uth); (3) benda-benda yang dimakan manusia
sebagai makanan; (4) benda-benda yang bernilai tinggi dan terhormat seperti
bagian dari al-Quran; dan (5) benda-benda yang tidak mampu mengangkat najis
karena terlalu licin atau rapuh.
F.
PERBANDINGAN KEUTAMAAN AIR DAN BATU DALAM ISTINJA’
Dalam
mazhab Syafi’i, disepakati bahwa menggunakan air untuk istinja’ lebih utama (afḍal)
daripada batu, karena air mampu menghilangkan najis secara lebih sempurna.
Namun menggunakan keduanya secara bersamaan (al-jam‘u bayna al-mā’ wal-ḥajar)
adalah yang paling utama.
الْأَفْضَلُ
الْجَمْعُ بَيْنَ الْمَاءِ وَالْحَجَرِ بِأَنْ يَبْدَأَ بِالْحَجَرِ ثُمَّ
يُتْبِعَهُ بِالْمَاءِ لِأَنَّهُ أَبْلَغُ فِيْ الْإِنْقَاءِ
Artinya:
“Yang paling utama adalah menggabungkan antara air dan batu, yaitu dengan
mendahulukan batu lalu menyusulnya dengan air, karena cara demikian lebih
sempurna dalam membersihkan.”[26]
Hikmah
yang dapat dipetik dari penggabungan keduanya adalah: batu terlebih dahulu
mengangkat wujud fisik najis, kemudian air menyempurnakan pembersihan terhadap
bekas-bekasnya. Dengan demikian, kebersihan yang dicapai menjadi lebih
menyeluruh dan sempurna.
G. TABEL
RINGKASAN SYARAT ISTINJA’ DENGAN BATU
|
No |
Syarat |
Hukum |
|
1 |
Kuantitas |
Minimal 3 usapan/batu |
|
2 |
Kualitas |
Harus sampai bersih (Inqā’) |
|
3 |
Kondisi Najis |
Tidak boleh kering |
|
4 |
Lokasi Najis |
Tidak boleh bergeser/pindah |
|
5 |
Kemurnian |
Tidak tercampur benda asing |
|
6 |
Batas Geografis |
Tidak melewati Ṣafḥah / Ḥasyafah |
|
7 |
Interaksi Cairan |
Tidak boleh terkena air terlebih
dahulu |
|
8 |
Status Alat |
Batu harus suci dan keras |
H. ANALISIS
MAQĀṢIDĪ DAN RELEVANSI KONTEMPORER
1. Hikmah
di Balik Syarat-Syarat Tersebut
Secara
makro, kedelapan syarat ini mengajarkan prinsip al-masyaqqah tajlibu at-taisīr
(kesulitan mendatangkan kemudahan) sekaligus lā ḍarara wa lā ḍirār (tidak boleh
membahayakan diri sendiri). Istinja’ dengan batu adalah bentuk keringanan
ketika air tidak tersedia. Namun keringanan ini tetap dibatasi oleh
syarat-syarat yang menjaga kebersihan dan kesehatan. Syaikh Yusuf al-Qaradawi
dalam Fiqh al-Ṭahārah mengomentari:
إِنَّ
هَذِهِ الشُّرُوطَ الثَّمَانِيَةَ تُبَيِّنُ عِنَايَةَ الْإِسْلَامِ
بِالنَّظَافَةِ، وَأَنَّ الرُّخَصَ لَيْسَتْ فَوْضَى بَلْ مَضْبُوطَةٌ بِضَوَابِطَ
عَقْلِيَّةٍ وَشَرْعِيَّةٍ
Artinya:
“Sesungguhnya delapan syarat ini menunjukkan perhatian Islam terhadap
kebersihan, dan bahwa keringanan bukanlah tanpa aturan, melainkan diatur dengan
kaidah-kaidah rasional dan syar‘i.”[27]
Dari
sudut maqāṣid al-sharī‘ah, istinja’ dengan batu mengandung tujuan menjaga
kesucian badan, menjaga sahnya ibadah, dan melatih kedisiplinan dalam kehidupan
muslim. Kebersihan sebelum shalat bukan sekadar syarat formal, tetapi bagian
dari adab berdiri di hadapan Allah.
2.
Relevansi di Era Modern
Pada
tataran praktik, pembahasan ini juga mendidik umat agar tidak meremehkan
kebersihan setelah buang hajat. Dalam kehidupan modern, sebagian orang mungkin
menganggap istinja’ cukup dengan sekali usap atau dengan kebiasaan yang tidak
teratur. Padahal, fikih Syafi‘i menuntut standar yang lebih cermat: alatnya suci,
jumlah usapannya memadai, najisnya belum berubah keadaan, dan tempatnya belum
melampaui batas.
Meskipun
saat ini hampir semua rumah memiliki air bersih dan tisu basah, pemahaman
tentang istinja’ dengan batu tetap relevan dalam beberapa konteks:
·
Kondisi darurat: seperti saat camping, bencana alam, atau di tempat
yang tidak ada air.
·
Prinsip efisiensi air: dalam Islam, membasuh dengan air hingga tiga
kali adalah sunnah, namun jika cukup dengan batu atau tisu (sebagai pengganti
batu modern), maka itu diperbolehkan asalkan memenuhi syarat.
·
Pendidikan karakter: mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang
sangat memperhatikan kebersihan bahkan dalam hal yang paling kecil sekalipun.
3. Catatan
Kritis: Tisu sebagai Pengganti Batu
Para
ulama kontemporer seperti Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islāmi wa
Adillatuhu menyatakan bahwa tisu modern yang kasar dan menyerap dapat
menggantikan batu, selama memenuhi syarat-syarat di atas: suci, tidak terkena
air, minimal tiga kali usapan, dll. Namun jika tisu terlalu lembut dan tidak
mampu mengangkat najis, maka tidak sah.[28]
I. KESIMPULAN
Berdasarkan
kajian mendalam terhadap teks Safinatun Najāh bab istinja’ dengan batu yang
telah diintegrasikan dengan berbagai syarah seperti Al-Kasyifatu as-Saja,
Tuhfatul Habib, Tuhfatul Muhtaj, Fathul Mu‘in, Fath al-Qarīb, Al-Majmū‘,
Nihayatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Asna al-Mathalib, Hasyiyah al-Bajuri, dan
lain-lain, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Istinja’ dengan batu memiliki delapan syarat yang bersifat kumulatif: (1)
menggunakan minimal tiga batu/usapan; (2) batu mampu membersihkan tempat najis
hingga bersih; (3) najis belum kering; (4) najis belum berpindah tempat; (5)
tidak ada najis lain yang menimpa; (6) najis tidak melampaui ṣafḥah dan ḥasyafah;
(7) najis tidak terkena air terlebih dahulu; dan (8) batu yang digunakan harus
suci.
2.
Kedelapan syarat ini tidak semata-mata formalitas, melainkan mengandung hikmah
kebersihan, kesehatan, dan kemudahan yang proporsional. Syariat menghendaki
kebersihan yang nyata, kepastian hukum, dan kemudahan dalam pelaksanaan.
3.
Para ulama mazhab Syafi‘i, seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar al-Haitami,
ar-Ramli, al-Khatib asy-Syirbini, Zakariyya al-Anṣari, Ibn Qasim al-Ghazzī,
al-Bajuri, al-Mahalli, serta ulama Nusantara seperti Syaikh Nawawi al-Bantani
dan Syaikh Zainuddin al-Malibari, telah memberikan penjelasan rinci yang
memperkuat pemahaman teks.
4.
Di era modern, tisu atau kertas kasar dapat menjadi pengganti batu selama
memenuhi semua syarat tersebut. Namun prinsip utama tetap pada efektivitas
pembersihan dan kesucian alat. Menggabungkan batu (atau penggantinya) dengan
air adalah cara yang paling utama.
Kajian
ini mengingatkan kita akan pentingnya memahami fiqih secara mendalam bukan
hanya pada tataran hafalan teks, tetapi juga pada pemahaman ‘illat (alasan
hukum) dan hikmah di balik setiap ketentuan. Dengan memahami mengapa setiap
syarat ditetapkan, seorang muslim akan mampu mengaplikasikan hukum-hukum
tersebut dengan lebih tepat dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk
dalam menghadapi situasi-situasi kontemporer yang tidak secara eksplisit
disebutkan dalam kitab-kitab klasik.
Wallahu
a‘lam bi aṣ-ṣawāb.
J. DAFTAR
PUSTAKA
Al-‘Abbadi, Ahmad bin Qasim. Hasyiyah al-‘Abbadi ‘ala Tuhfah
al-Muhtaj. Beirut: Dar Sadir, t.t.
Al-Anṣari, Zakariyya bin Muhammad. Asna al-Mathalib Syarh Raudh
al-Thalib. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2000.
Al-Anṣari, Zakariyya. Fatḥ al-Wahhāb bi Syarḥ Manhaj al-Ṭullāb.
Beirut: Dar al-Fikr, 1994.
Al-Bajuri, Ibrahim. Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Syarh Ibn Qasim al-Ghuzzi.
Beirut: Dar al-Fikr, 1995.
Al-Bujairami, Sulaiman. Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib. Beirut:
Dar al-Fikr, 1995.
Al-Bujairimi, Sulaiman. Hāsyiyah al-Bujairimi ‘alā al-Khaṭīb.
Beirut: Dar al-Fikr, 1995.
Al-Ghazzī, Muḥammad bin Qāsim. Fath al-Qarīb al-Mujīb. Beirut:
al-Jafān wa al-Jābī dan Dār Ibn Ḥazm, 1425 H/2005 M.
Al-Hadhrami, Salim bin Sumair. Safinatun Najah. Beirut: Dār
al-Minhāj, 2009; juga Surabaya: Maktabah Ahmad bin Sa’ad bin Nabhan, t.t.
Al-Haitami, Ahmad bin Muhammad Ibnu Hajar. Tuhfatul Muhtaj bi Syarh
al-Minhaj. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, t.t.; juga Beirut: Dar
al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2010; dan Mesir: Al-Maktabah at-Tijariyah al-Kubra,
1983.
Al-Jawi, Muhammad Nawawi. Al-Kasyifatu as-Saja Syarh Safinati
an-Naja. Jakarta: Darul Kutub al-Islamiyah, 2008.
Al-Khatib asy-Syarbini, Syamsuddin Muhammad. Mughnil Muhtaj ila
Ma‘rifat Ma‘ani Alfazh al-Minhaj. Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1997.
Al-Mahalli, Jalaluddin. Syarh al-Minhaj li Imam al-Nawawi (Kanz
ar-Raghibin). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.
Al-Malibari, Zainuddin. Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratil ‘Ain.
Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2010.
Al-Qaradawi, Yusuf. Fiqh al-Ṭahārah. Kairo: Maktabah Wahbah, 1995.
Al-Qusyairi, Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’
al-Turats al-‘Arabi, t.t.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Majmū‘ Sharḥ al-Muhadhdhab. Jeddah:
Maktabah al-Irsyad, t.t.; juga Cairo: al-Maṭba‘ah al-Munīriyyah, 1344–1347 H.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Raudhatul Thalibin wa ‘Umdatul Muftin.
Beirut: al-Maktab al-Islami, 1991.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Rawḍah al-Ṭālibīn. Beirut: Dar
al-Fikr, 2000.
Ar-Ramli, Syamsuddin Muhammad. Nihayatul Muhtaj ila Syarh
al-Minhaj. Beirut: Dar al-Fikr, 1984.
Az-Zuhaili, Wahbah. Al-Fiqh al-Islāmi wa Adillatuhu. Damaskus: Dar
al-Fikr, 2007.
Ibnu Qasim al-Ghazi, Muhammad. Fatḥ al-Qarīb al-Mujīb. Beirut: Dar
al-Fikr, 1970; juga edisi Beirut: al-Jafān wa al-Jābī dan Dār Ibn Ḥazm, 1425
H/2005 M.
Nawawi al-Jawi, Muhammad bin ‘Umar. Marāqī al-‘Ubudiyyah. Semarang:
Toha Putra, t.t.
Syibramalisi, ‘Ali. Hasyiyah ‘alā Nihāyah al-Muḥtāj. Kairo: Mustafa
al-Babi al-Halabi, 1967.
[1] Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzdzab, Jeddah:
Maktabah al-Irsyad, t.t., Juz II, hlm. 95
[2] Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi, Shahih Muslim, Beirut: Dar Ihya’
al-Turats al-‘Arabi, t.t., Juz I, hlm. 223, Hadits No. 262
[3] Syamsuddin Muhammad ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj ila Syarh al-Minhaj,
Beirut: Dar al-Fikr, 1984, Juz I, hlm. 119
[4] Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Al-Majmū‘ Sharḥ al-Muhadhdhab, Cairo:
al-Maṭba‘ah al-Munīriyyah, 1344–1347 H, jilid 2, hlm. 130–131
[5] Syaikh al-Islam Zakariyya al-Anṣari, Fatḥ al-Wahhāb bi Syarḥ Manhaj
al-Ṭullāb, Beirut:
Dar al-Fikr, 1994, juz 1, h. 45
[6] Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi, Al-Kasyifatu as-Saja Syarh Safinati
an-Naja, Jakarta: Darul Kutub al-Islamiyah, 2008, Hal. 42
[7] Ahmad bin Muhammad Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarh
al-Minhaj, Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, t.t., Juz I, hlm. 164
[8] Ahmad bin Muhammad Ibnu Hajar al-Haitami, Tuḥfah al-Muḥtāj, (Beirut:
Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2010, juz 1, h. 200)
[9] Zakariyya bin Muhammad al-Anṣari, Asna al-Mathalib Syarh Raudh
al-Thalib, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2000, Juz I, hlm. 56
[10] Imam al-Khatib asy-Syirbini dalam, Mughnī al-Muḥtāj, (Beirut: Dar
al-Ma‘rifah, 1997, juz 1, h. 120)
[11] Syekh Sulaiman al-Bujairami, Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khatib,
Beirut: Dar al-Fikr, 1995, Jilid 1, Hal. 201)
[12] Syaikh ‘Ali Syibramalisi,
Hasyiyah ‘alā Nihāyah al-Muḥtāj, (Kairo: Mustafa al-Babi
al-Halabi, 1967, juz 1, h. 89)
[13] Syamsuddin Muhammad al-Khatib asy-Syarbini, Mughnil Muhtaj ila
Ma'rifat Ma'ani Alfazh al-Minhaj, Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1997, Juz I, hlm.
168
[14] Imam ar-Ramli, Nihāyah al-Muḥtāj, (Beirut: Dar al-Fikr, 1984, juz 1, h. 150)
[15] Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, Mesir:
Al-Maktabah at-Tijariyah al-Kubra, 1983, Jilid 1, Hal. 172
[16] Ahmad bin Qasim al-‘Abbadi, Hasyiyah al-‘Abbadi ‘ala Tuhfah al-Muhtaj,
Beirut: Dar Sadir, t.t., Juz I, hlm. 247
[17] Syaikh Muhammad bin ‘Umar Nawawi al-Jawi, Marāqī al-‘Ubudiyyah, (Semarang: Toha Putra,
t.t., h. 15)
[18] Ahmad bin Muhammad Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarh
al-Minhaj, Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, t.t., Juz I, hlm. 167
[19] Imam al-Bujairimi, Hāsyiyah al-Bujairimi ‘alā al-Khaṭīb, (Beirut: Dar
al-Fikr, 1995, juz 1, h. 210)
[20] Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Syarh Ibn Qasim al-Ghuzzi,
Beirut: Dar al-Fikr, 1995, Juz I, hlm. 76
[21] Ibnu Qasim al-Ghazi, Fatḥ al-Qarīb al-Mujīb (Beirut: Dar al-Fikr,
1970, h. 21)
[22] Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Raudhatul Thalibin wa ‘Umdatul Muftin,
Beirut: al-Maktab al-Islami, 1991, Juz I, hlm. 48
[23] Imam an-Nawawi, Rawḍah al-Ṭālibīn (Beirut: Dar al-Fikr, 2000, juz 1,
h. 98)
[24] Syekh Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratil ‘Ain,
Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2010, Hal. 48)
[25] Jalaluddin al-Mahalli, Syarh al-Minhaj li Imam al-Nawawi (Kanz
ar-Raghibin), Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t., Juz I, hlm. 42
[26] Syamsuddin Muhammad ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj ila Syarh al-Minhaj,
Beirut: Dar al-Fikr, 1984, Juz I, hlm. 124
[27] Syaikh Yusuf al-Qaradawi, Fiqh al-Ṭahārah (Kairo: Maktabah Wahbah,
1995, h. 87)
[28] Dr. Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islāmi wa Adillatuhu, (Damaskus: Dar
al-Fikr, 2007, juz 1, h. 420)
Posting Komentar